Minggu, 23 November 2014

Amarah Tak Terkatakan

Saksikanlah betapa rindu merajuk,
kemarahan yang mendasar baik,
mengalir ke dalam nafas di dada..

Bagai ilalang tersibak angin,
tak terkatakan, tapi...
terpecahkan oleh langkah debu

[tuk tuk tuk tuk]
[tap tap tap tap]
Ah, sudah! [bruk!]
Aku tak tahu..

Senin, 10 November 2014

Gulali.. Gulali Kamu

Aku sadar hidup tak seindah pelangi..
Tak semanis permen gulali
Cinta aja pakai jatuh dulu..
Namun, benarkah berhenti di kamu?

Jumat, 17 Oktober 2014

Kenanglah Sayang, Bulaksumur

Jiwa di dunia yang hilang sendu
Jiwa sayang, kenangan padamu
Ada derita di sisiku
Bayangan yang bikin tinjauan beku

Angin bangkit kala senja,
Ingatkan musim gugur kan tiba
Aku cemas bisa kehilangan kau
Aku cemas pada cemasku


Di batu penghabisan Bulaksumur
Pagar akhir kebanggaan leluhur
Kenanglah sayang, kenanglah dengan mesra..
Kau kubayangkan di sisiku ada

Dan jika untung malang tersedu
Aku dalam kuburan dangkal,
Ingatlah sebisamu segalanya aku
Juga cintaku yang kekal

Selasa, 02 September 2014

Hanya Aku dan Menantimu

Bulan pun belum setengahnya, saat aku menantimu..
Ah, apa yang dinanti? Sebatang korek basah untuk mengering?
Bodoh! Seseorang ingatkan aku.. Tampar hati keras ini!
Seseorang sadarkan aku.. Siramkan timah berbuih di rusukku!

Apalah pengembaramu tanpa arah? Hanyalah pedal kosong dan botol berdebu.. Tersujud kekeringan.. Terhempas dari punggung anjing gersang.. Menyudut di sekotak kecil rumah minum dan berdusta pada diri sendiri.. Oh nyiur penuh luka, daraskan doa dan rindu hujan!

Kebohongan.. Hina aku segala, siapapun tak perlu mata hingga sadar, aku penuh noda..
Hijabmu, hindarkan telingamu dari nada-nada palsu.. Namun mampukah hatimu?
Suatu bataskah kemampuanku mengulurkan tangan untuk sebagian hidupmu?
Oh tinggi mahkota di kelopakmu dan malam yang gelap.. Bersama angin dingin

Bulan pun belum setengahnya, aku masih menantimu..
Meskipun engkau tak ingin dinanti, aku yang hingga berpeluh dan nyamuk-nyamuk lapar!
Maafkan aku yang sibuk di pikiranku tanpa mampu ungkapkan alasan
Karena banyak alasan untuk aku menantimu..

Izinkan aku..

Menantimu..

Minggu, 10 November 2013

Puisi Merah Jambu

Seuntai bunga merah jambu
Dalam selubung merah jambu
Berkilauan, kupu-kupu bersayap merah jambu
Dalam bahagia dirimu..
Yang berhijab merah jambu

Hujan di gurun pasir
Aku tak dengar
Badai pasir di hutan hujan
Aku tak rasa
Seluruh pikir, hati, dan ragaku..
Hanya tuk sampaikan
bunga ini padamu

Jikalaupun saling diam adalah emas
Akan kupilih batu delima
Meski zamrud bukan untuk ditolak..
Safir datang sebagai pilihan lain

Namun aku bukanlah pencari emas
Aku hanya mencari kehangatan.. Kehangatan
Berpindah dari selimut satu ke yang lain
Hingga kutemu selimut yang warnanya begitu gemulai
Yang aku akan diam dan kudekap untuk selamanya..

Wahai dirimu yang berhijab merah jambu..
Indah senyummu, harum..
Purnama malam yang aku kagum pesonanya
Rintih tangismu, pilu..
Mutiara musim salju yang harus aku jaga

Andai kuncupmu jadi mutiara bagiku
Satu aku yang ingin tersabda..
Aku hanya ingin satu selimut itu
Bukan harus yang merah jambu..
Tapi kata-kata ini?
Untukmu.. Ya untukmu..
Aku untai sebagai puisi
yang merah jambu.. :)
Ditulis atas seserpih meja kayu rapuh, 10 November 2013

Sabtu, 28 September 2013

Anomali Rasa

Seribu kata terucap dalam diam
Larasnya nada hanyut dalam gertak keresahan
Hening tiba-tiba..
Senandung air mengalir terasa membentak

Lenyap..
Bukannya tak berbekas
Selalu lah tonggak menancapkan luka
Namun luka itu bukannya tak ditunggu
Ia datang tanpa undangan
Yaa, ia datang saja..

Dan sajak putih kembali melamunkan kasih
Ia akan menunggu
Ia.. Akan.. Menunggu..
Menunggu..
Hingga si tuli mendengar si bisu berkata
bahwa si buta melihat si lumpuh berjalan

Pun akhirnya si tua bersabda dalam deham
Sampai kapan kau di sana, anakku?
Buka bajumu dan angkat jangkarmu!
Kita berlayar..
Biar matahari terbenam yang mengajarkan padamu

Mataram, 28 September 2013

Minggu, 22 September 2013

Aku kembalikan.. :)

Epilog selalu lahir untuk terabaikan
Ketika sebuah jalan nyata berliku namun kita semakin mengarunginya
Aku mengerti setiap denyut kata-kata itu
Ya.. Meskipun aku alpa akan adanya di hadapku

Dan bunga itu..
Bunga yang selalu aku dibuat tertegun olehnya
Tak perlu lagi terjemahan ataupun mukadimah
Bunga yang membuat aku tahu lemahnya aku
Dan menguatkan aku kemudian..

Tak sedikitpun menolak..
Hanya semua begitu tiba-tiba
Dan satu-satunya yang tersesalkan hanyalah janji
Yang terlanjur aku ikrarkan namun harus tertunda kibarnya

Bagaimanapun ini bukanlah persimpangan
Namun aku pun tak kuasa tuk tahu jalannya
Hanya tetap bercita kita memiliki ujung yang sama

Terimakasih telah membuat aku mengerti rasa
Maafkan atas semua janjiku yang sekarang hanya terasa dusta belaka

Selendang ini aku kembalikan..
Maafkan kelancanganku yang telah tega menghirup setetes harumnya
Tunggulah hadirku kembali tuk membelinya
100 unta.. Semoga itu cukup tuk menjadikan aku pemenang
Untuk sebuah harta yang begitu indah tercipta oleh-Nya

Aku tahu betapa tak berharganya pesawat kertas ini
Yang dengan beraninya hanya berimajinasi sembari membawa coretan tinta
Terimakasih untuk doa dan waktu berproses ini
Proses hingga pesawat ini mampu datang ke puncak angkasa
Dan mampu tuk membawa sang bidadari pulang.. :)