Tepat setelah sholat Ashar sore
ini, sebenarnya Bima punya rencana untuk main ke rumah salah satu teman
dekatnya. Dan di sinilah 'kekhilafan' mulai terjadi, ketika ia akan
berpamitan dengan ayahnya yang sedang menyirami tanaman hiasnya yang
tertata rapi di atas bangku kecil halaman depan, terdengarlah jeritan
menggaung dari dalam rumah, "Pak! Ibu, Pak!! Ibu!!". Bima tahu betul itu
suara ibunya, dan Bima tahu betul bahwa suara itu berasal dari kamar
kecil belakang yang terletak di samping dapur (kamar yang cenderung
dihindari Bima karena perabot warisan turun-temurun berkumpul
jadi satu di kamar ini dan semuanya mengeluarkan bau-bauan aneh).
Pikirannya kosong, ia bahkan hampir tidak menyadari suara bergedebukan sprayer,
yang dijatuhkan ayahnya yang sontak berlari panik ke dalam rumah,
hingga muatan airnya yang masih separo penuh tumpah ke lantai dan
membasahi kaos kaki yang dikenakannya.
Sebelum Bima dapat melakukan tindakan apapun yang normal, ia merasakan saku kanannya bergetar, dan ia mengangkatnya. Ternyata pesan dari sahabatnya, Iwan:
Bos, jd maen? Td duit patunganx udh Q beliin joystick dobel. Msh sisa 9rb
Ketika
Bima akan menekan keypad kiri telepon genggamnya, ternyata ibunya telah
berada tepat di depannya, wajahnya agak kemerahan, matanya sedikit
berair, dan kedatangannya membawa aroma bumbu dapur. "Bima, nenek sakit.
Tolong kamu pergi ke telaga di dekat tempat tinggal nenek dulu,
ambillah air dari sana dan bawa balik ke sini buat nenek. Tapi sebelum
kamu mengambil air, terlebih dahulu ambillah tiga butir batu karang
putih yang berserakan di bawah pohon beringin nomor dua dari utara.
Lemparkan ketiga batu tadi ke telaga untuk terlebih dahulu mengusir jin
penunggunya. Ini botolnya..." kata ibu Bima sembari menyerahkan botol
air mineral ukuran 600 ml. Bima melihat di badan botol itu (yang
seharusnya terdapat label merek produk) terdapat tiga karet gelang
berwarna merah, kuning, dan hijau."Tapi rumah nenek kan dua jam dari sini, Bu..."
Ibunya tidak menjawab. Tidak ada bentakan ataupun pukulan yang dulu sering diterima Bima ketika kecil. Namun ibu Bima bukanah tipe orang yang mampu menyembunyikan air muka, Bima kenal betul ekspresi itu. Bukan kekecewaan, melainkan sebuah kepasrahan, ketidakberdayaan. Bima pun luluh, tanpa sepatah ucap pun, Bima langsung menurut.
Dan sekarang, di persimpangan jalan besar ini, Bima bahkan masih mempertimbangkan, seberapa bodoh keputusan yang ia buat lima belas menit yang lalu........ *bersambung*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar